Post

TULUNGAGUNG MENUJU GEOPARK NASIONAL

19 Maret 2019

TULUNGAGUNG MENUJU GEOPARK NASIONAL

Rasa bangga, itulah yang mungkin harus ditanamkan dalam diri warga Tulungagung. Kabupaten yang berada di wilayah selatan jawa, dengan luas wilayah sebesar 1.055,65 km2 ini, memiliki potensi geo morfologi kars yang luar biasa. Utamanya dikawasan selatan Tulungagung yang merupakan kawasan kars dan banyak dijumpai gunung – gunung marmer. Disamping itu, dikawasan ini juga banyak dijumpai fosil – fosil purba, yang berupa hewan, tumbuhan dan bahkan manusia. Dengan keunikan geologi ini, sangat layak apabila kawasan ini nantinya ditetapkan sebagai geopark.

Geopark adalah area yang secara nasional dilindungi karena wilayah tersebut mengandung sejumlah situs warisan geologi yang memiliki ciri yang spesifik, jarang ditemukan di wilayah lain atau memiliki sisi keindahan formasi geologi. Konsep pengembangan kawasan ini dengan manajemen multi stekeholders yang mampu memberikan “significance regional impact”, bagi konservasi, edukasi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di kawasan dan daerah sekitarnya. Persyaratan pengembangan geopark ini sekurang – kurangnya satu bentukan geodiversity – geoheritage berkelas nasional dan atau internasional yang dilindungi dan dikembangkan dengan manajemen berbasis konservasi dan edukasi berlandasakan aktifitas “sustainable green tourism” untuk kesejahteraan masyarakat.

Salah satu daya tarik wisata di Kabupaten Tulungagung, yaitu Karst Tulungagung, Jawa Timur. Konsep Geopark dan pengembangannya akan diaplikasikan dan diimplementasikan di daerah Kabupaten Tulungagung bagian Selatan, yang secara geomorfologi merupakan kawasan batugamping karst. Di sisi lain berkaitan dengan paradigma global yang diterima oleh semua negara di dunia, batugamping karst sebagai salah satu unsur sumberdaya geologi berpeluang dapat menjadi situs warisan geologi yang perlu dilestarikan keberadaannya (konservasi). Ide konservasi sumberdaya warisan geologi identik dengan konservasi biologi, yaitu menekankan pada perlindungan aneka nilai potensial yang dimiliki oleh kawasan yang bersangkutan, dan dimanfaatkan menjadi objek penggalian nilai ekonomi non-tambang. Kegiatan yang paling dekat adalah memanfaatkannya menjadi daya tarik wisata yang berbasis kepada kekayaan alam kegunungapaian beserta kehidupan sosial budaya manusia yang menempatinya

.

Dari hasil kajian awal dan penelitian yang dilakukan oleh Bidang Penelitian Pengembangan dan APP Bappeda Tulungagung yang bekerjasama dengan para ahli dari beberapa universitas (Universitas Brawijaya dan UPN Veteran Yogyakarta), dapat ditarik kesimpulan bahwa marmer merupakan keunikan geopark  Tulungagung. Marmer sendiri merupakan batuan metamorf  yang terbentuk ketika batuan karbonat terkena panas dan tekanan sehingga mengalami proses metamorfisme. Marmer terdiri dari mineral kalsit (CacO3) dan biasanya mengandung mineral lain seperti mineral lempung, mika, kuarsa, pirit, besi oksida dan grafit. Dalam proses metamorfisme, mineral kalsit dalam batuan karbonat (batu gamping) mengalami rekristalisasi sehingga menjadi marmer.

Beberapa waktu lalu, tim ahli geopark dari UPN Veteran Yogyakarta yang diketuai oleh Dr. Ir. C. Prasetyadi, M.Sc, mengadakan kunjungan Bappeda Tulungagung sekaligus mengadakan kunjungan lapangan terkait dengan potensi geopark Tulungagung. “Setelah melihat langsung lokasi marmer, saya yakin, bahwa Tulungagung perlu menjadikan sentra marmer sebagai “permatanya” geopark Tulungagung”, katanya. Untuk itu perlu menyulap sentra marmer itu menjadi menarik secara komrehensif, mulai dari keindahan serpihannya, tata ruannya serta diperlukan sarana pendukung berupa museum marmer serta monumen alamiah batu marmer.  Memang selain untuk dieksplorasi, sebagai salah satu syarat untuk jadi geoeritage adalah ada kawasan yang  harus tetap dilestarikan dan dijaga keberadaannya.

Daya dukung geopark Tulungagung selain marmer antara lain, gunung api purba “Gunung Budeg”, Telaga Buret, Goa Tenggar dengan berbagai fosil purba didalamya, Situs Song Gentong di kawasan gunung marmer yang memiliki potensi fosil purba, lokasi penemuan fosil manusia purba homo wajakensis, berbagai benda cagar budaya (candi, patung, petilasan, makam), seni khas Tulungagung (reyog kendang Tulungagung, jaranan, tiban, ulur-ulur, kemanten kucing), kerajinan batik khas Tulungagung, konservasi penyu, keberadaan pantai yang membentang di kawasan selatan Tulungagung, serta kawasan hutan heterogen gunung wilis dengan berbagai flora dan fauna endimiknya. Dengan potensi ini, layaklah untuk kita berjuang bersama – sama mewujudkan Geopark Tulungagung menjadi Geopark Nasional dan bahkan Internasional (Geopark Global Unesco), dengan demikian semboyan filosofi geopark “memuliakan warisan bumi mensejahterakan masyarakat”, akan terwujud di bumi Homo Wajakensis. (aisi/litbangapp/bappeda_ta)


Tags :


Bagikan : Facebook Twitter Telegram Whatsapp Email

Comment (0)

Leave a Comment