Post

JEJAK – JEJAK PERADABAN PURBA DI GOA TENGGAR

22 Februari 2019

JEJAK – JEJAK PERADABAN PURBA DI GOA TENGGAR

Kawasan selatan Kabupaten Tulungagung merupakan kawasan kars yang banyak dijumpai goa – goa, salah satunya Goa Tenggar di Desa Tenggarejo Kecamatan Tanggunggunung. Goa Tenggar mulai di explore oleh Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) setempat kurang lebih tahun 2016. Sejalan dengan perkembangannya, Goa Tenggar selain saat ini sudah mulai dikembangkan oleh Pokdarwis setempat untuk wisata goa. Hal ini merujuk pada hasil kajian dan penelitian yang dilakukan oleh Bappeda Kabupaten Tulungagung bekerjasama dengan tim ahli dari Antropologi Universitas Airlangga Surabaya dengan tema ‘Kajian Rencana Pengembangan Obyek Wisata dan Kepurbakalaan Bidang Paleoantropologi, Paleontologi dan Geologi Goa Tenggar”, pada tahun lalu.

Goa Tenggar merupakan salah satu goa dari sekian banyak goa kars di Tulungagung yang tergolong cukup fenomenal dan mencengangkan. Dari berbagai sumber data dan hasil penelusuran goa yang dilakukan antara lain oleh Mahasiswa Pecinta Alam “Himalaya” STAIN Tulungagung, panjang goa lebih dari 2,5 kilometer dengan tinggi dan lebar goa yang bervariasi. Pintu masuk goa memiliki lebar lebih dari 15 meter dengan tinggi dinding goa lebih dari 50 meter. Didalam goa terdapat stalaktit dan stalakmit yang terus tumbuh sampai saat ini. Hal ini dikarenakan di atas goa ini terdapat uvala yang memiliki kandungan air yang melimpah, sehingga air menyerap ke dalam lapisan kars yang akhirnya membantu proses pertumbuhan stalaktit dan stalakmit. “Ada stalaktit yang tingginya lebih dari 20 meter, yang disebut warga sekitar sebagai “watu jarit”, kata arif, Ketua Pokdarwis Goa Tenggar.

Sebenarnya yang lebih mencengangkan lagi terkait dengan temuan tulang – tulang fosil dari berbagai hewan purba yang menempel pada dinding – dinding goa ini. Berdasarkan pengamatan makroskopik awal atas fosil-fosil itu mengindikasikan fosilisasinya yang lebih sempurna dibandingkan kompleks Wajak dan Song Gentong. Goa Tenggar berada di Desa Tenggarejo, Kecamatan Tanggunggunung, Kabupaten Tulungagung. Berdasarkan kunjungan awal atas informasi itu teramati bahwa Goa Tenggar ini berada dalam fisiografi karst Tulungagung bagian selatan. Pembentukan guanya dipengaruhi adanya sungai bawah permukaan yang masuk ke dalam satuan batugamping. Sungai ini masih aktif dengan debit air yang akan berkurang saat musim kemarau dan melimpah saat musim hujan. Lebar bagian depan ±10 meter, tinggi atap ± 8 meter dan lantai guanya sisi timur berupa lapisan tanah; sedangkan bagian sisi barat adalah sungai. Bagian dalam guanya terdapat singkapan endapan konglomerat yang sangat kompak dan paleosoil yang mengandung banyak fragmen tulang fosil fauna vertebrata yang diduga berasal dari kala Pleistosen.

Dari aspek temuan, Gua Tenggar bisa disejajarkan dengan kompleks Wajak dan Song Gentong. Berdasarkan itu dipertimbangkan untuk melakukan kajian intensif terkait pengembangan kepariwisataan pada kawasan Gua Tenggar. Pada saat yang bersamaan kunjungan wisatawan dibatasi untuk menjaga kualitas fosil dari potensi kerusakan. Penelitian dan pemetaannya itu diharapkan dapat menggambarkan potensi kawasan Gua Tenggar di bidang kepariwisataan secara menyeluruh. Potensi kepariwisataan dari hasil kajian ini tidak sebatas Gua Tenggar dengan segala atraksinya, namun juga kawasan Gua Tenggar khususnya di Desa Tanggung Gunung berikut potensi yang ada di dalamnya. Proses penelitian dan pengembangan kepariwisataan kawasan Gua Tenggar tetap mengedepankan pelibatan masyarakat lokal sebagai tuan rumah. Sehingga kedepan pengembangan kepariwisataan di Gua Tenggar bersifat keberlanjutan (sustainable) dan berbasis pada pembangunan kualitas masyarakat (community based tourism).

Dari survei permukaan dikumpulkan beberapa sampel fosil yang diambil dari endapan di dinding-dinding Goa Tenggar. Sampel tersebut dianalisis, bersama dengan beberapa temuan fosil di sekitar area luar goa yang telah dikumpulkan oleh anggota pokdarwis Goa Tenggar. Sampel-sampel ini meliputi sisa-sisa dari bagian tulang atau gigi fauna yang sifatnya kadang-kadang fragmentaris. Identifikasi secara makroskopis pada sampel-sampel tulang atau gigi dari endapan dinding dan area luar goa menunjukkan derajat fossilisasi yang tinggi, berdasarkan material tulangnya yang secara keseluruhan telah tergantikan oleh material abiotis. 

Analisis taksonomis menunjukkan sampel-sampel tersebut meliputi beragam jenis fauna terrestrial. Ragam fauna itu diketahui taksonominya berdasarkan pengamatan pada morfologi tulang/fragmen tulangnya dengan melakukan perbandingan secara langsung dengan material pembanding (tulang) dan juga berdasarkan perbandingan melaui literatur (atlas fauna). Jenis-jenis fauna terrestrial yang teridentifikasi di antaranya adalah:

  • Bubalus (kerbau), jenis fauna ini teridentifikasi dari tulang costa (rusuk) pertama dan fragmen gigi,
  • Bibos (banteng), jenis fauna ini teridentifikasi dari tulang radius-ulna dan fragmen tanduk,
  • Cervus (rusa), jenis fauna ini teridentifikasi dari fragmen mandibula, gigi, dan tulang metacarpal, dan 
  • Sus (babi), jenis fauna ini teridentifikasi dari fragmen tulang humerus dan tulang calcaneus.

Selain jenis fauna terrestrial, teridentifikasi pula fauna dari Klass Reptilia, yaitu dari famili Testudinidae (kura-kura semiaquatik) dari fragmen plastronnya.

Sampel-sampel fosil fauna yang diambil dari endapan dinding Goa Tenggar tampaknya adalah hasil pengendapan oleh aliran sungai yang mengalir di dalamnya. Sungai ini menghanyutkan sisa-sisa fauna dari hulu atau sekitarnya, dan sebagian di antaranya terendapkan di dalam goa. Jika mengamati temuan-temuan fosil itu yang melekat di beberapa lapisan sedimen sungainya, dan di dinding-dinding goa dengan beragam ketinggian dari permukaan lantainya, maka tampaknya air sungai di dalam goa ini pernah meluap dan memenuhi hampir keseluruhan ruang goannya. Fosil-fosil fauna Goa Tenggar itu menggambarkan bahwa sekitar goa itu adalah lingkungan yang relatif terbuka dengan sabana yang diselingi pohon-pohon besar dan mengalir sungai di dalamnya. Lingkungan purba itu seperti gambaran lingkungan masa Pleistosen Akhir – Holosen Awal, serupa dengan gambaran lingkungan purba di Pegunungan Sewu selatan Jawa yang membetang dari Jawa Tengah sampai ujung timur Jawa, seperti Gunung Kidul, Pacitan dan Tulungagung (Badoux, 1959; Jacob, 1980; 1987; Jatmiko, 1994; Berg et al., 1996; Marliac  & Simanjuntak,  1996; Simanjuntak, 2002; Storm et al., 2005; Vos, 2004; Westaway et al., 2007; Storm et al., 2013).

Selain temuan permukaan, usaha menggunakan Teknik geotrench juga dilakukan. Geotrench adalah metode geologi untuk menngupas lokasi yang diduga potensial mengandung informasi fosil, Pengupasan ini berbentuk berundak sehingga dapat diketahui secara cepat potensi wilayah tersebut. Temuan-temuan hasil geotrench adalah Bubalus sp., Bibos sp., Sus sp., dan Testudinidae sp. Fosil-fosil Goa Tenggar itu menggambarkan bahwa sekitar gua adalah lingkungan yang relatif terbuka dengan sabana yang diselingi pohon-pohon besar dan mengalir sungai di dalamnya. Lingkungan purba itu seperti gambaran Pleistosen Akhir – Holosen Awal; seperti gambaran lingkungan purba di Pegunungan Sewu selatan Jawa yang membentang dari Jawa Tengah sampai ujung timur Jawa, seperti Gunung Kidul, Pacitan dan Tulungagung (Badoux, 1959; Jacob, 1980; 1987; Jatmiko, 1994; Berg et al., 1996; Marliac  & Simanjuntak,  1996; Simanjuntak, 2002; Storm et al., 2005; Vos, 2004; Westaway et al., 2007; Storm et al., 2013). Keadaan itu menarik untuk menghubungkan temuan-temuannya dengan situs-situs di sekitarnya, mulai dari kompleks Wajak, Song Gentong, Pacitan, Ponorogo dan Gunung Kidul.

Pengembangan pariwisata pada objek goa semakin penting dan menyita perhatian masyarakat untuk mengunjunginya. Atraksi wisata yang disuguhkan tidak hanya lanskap bentang alam goa namun juga ada banyak atraksi yang menjadikan masyarakat untuk memilih goa sebagai destinasi wisata utamanya. Aspek ritual dan kebudayaan masyarakat di sekitar goa dan temuan arkeologi pada goa juga menjadi atraksi yang menjadi daya tarik wisatawan mengunjungi goa.

Goa sebagai sumber daya alam memiliki potensi besar untuk pengembangan pariwisata dan sebagai konsekuensi logisnya adalah mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi dari masyarakat lokal (Rindam, 2014) serta membantu pemerintah untuk menyampaikan kampanye berkaitan dengan isu-isu konservasi. Menurut Knezevic dan Zikovic (2011) goa selalu dilengkapi dengan fitur morfologi yang berharga untuk pengembangan pariwisata minat khusus untuk wisatawan petualangan.

Okonkwo dan Eyisi (2013) berpendapat bahwa goa-goa dan morfologi bebatuan di dalamnya memiliki nilai yang sangat besar bagi para arkeolog dan stakeholder pariwisata. Bagi arkeolog mereka memberikan informasi tentang pola tempat tinggal penghuni manusia di masa lalu termasuk keseharian dan sistem kepercayaan mereka, sementara stakeholder pariwisata dan wisatawan menganggap goa dan morfologi bebatuannya sebagai sarana untuk mengalami pariwisata berbasis alam atau ekowisata. Ekowisata menjadi titik temu antara pariwisata yang sering diidentifikasi sebagai penggerak eksploitasi dan konservasi yang dianggap sebagai upaya pelestarian.

Model ekowisata ini yang bisa diterapkan dalam pengelolaan Goa Tenggar di Kabupaten Tulungagung. Hasil eskavasi dari tim gabungan peneliti dari Universitas Airlangga dan Universitas Gadjah Mada berhasil mendapatkan temuan arkeologi yang cukup baik. Tim peneliti menduga bahwa temuan arkeologi awal berupa tulang belulang manusia ini diperkirakan lebih tua usianya dari pada temuan arkeologi seperti yang ada di Sangiran dan Trinil. Kepastian hasil akhir terkait usia hasil temuan arkeologis tim peneliti masih menunggu hasil laboratorium pengujian unsur karbon yang dilaksanakan di Jerman.

Model pengembangan wisata Goa Tenggar senada dengan model pengembangan wisata goa yang disepakati dunia internasional. Kesepakatan ini menyampaikan bahwa wisata goa diharuskan menjadi penopang pariwisata yang meningkatkan karakter lingkungan geografis, peninggalan cagar budaya, estetika, budaya, dan kesejahteraan penduduk lokal (National Geography Society, 2002). Hal ini menunjukkan bahwa aspek-aspek pengembangan wisata goa sangat beragam mulai dari pengelolaan kawasan alam, atribut historis lokasi, situs arkeologi, pemandangan alam, arsitektur tradisional, masakan lokal, musik, seni dan tari, dan sebagainya. Kesimpulannya, pada saat yang bersamaan pariwisata dikembangkan sebagai upaya peningkatan kesejahteraan penduduk serta pelestarian terhadap lingkungan.

Pengembangan goa untuk pariwiasata banyak dilakukan oleh pemerintah Perancis. Misalnya goa Lasco di Perancis. Sekalipun demikian tetap harus dipertimbangkan jenis wisatawan yang diduga akan menjadi pengunjung goa Tenggar. Jenis wisatawan dalam negeri yang mengunjungi goa cenderung didominasi oleh masyarakat yang hanya sekedar piknik dan rekreasi. Jenis wisatawan ini memiliki kecenderungan minim pengetahuan terkait dengan upaya pelestarian. Akibatnya, kerusakan ataupun degradasi nilai obyek wisata tampak jelas disengaja di sekitar lingkungan goa.  Kondisi ini yang terjadi pada objek wisata Goa Gong dan Goa Tabuhan di Pacitan. Adanya pengunjung di Goa Gong meningkatkan suhu dan menurunkan kelembapan relatif udara dalam goa.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Chafid Fandeli dan Tjahyo Nugroho Aji (2005) menjelaskan bahwa pengelolaan goa untuk ekowisata perlu dikembangkan dengan perencanaan yang berbasis konservasi dan berbasis masyarakat. Untuk mengelola kawasan yang sangat rentan seperti kawasan goa ini direncanakan dan dikelola dengan pendekatan yang disebut LAC (The Limit of Acceptable Change) yang dikemukankan oleh Eagles and Cool (2002). Pendekatan LAC ini mencakup 4 elemen yaitu : (1) melakukan identifikasi seberapa jauh tingkat penerimaan elemen biofisik dan dampak sosialnya, (2)mengembangkan teknik manajemen yang dapat menjamin penerimaan sesuai dengan standard yang berlaku, (3)memonitor kondisi obyek, dan (4)apabila diperlukan segera mengganti teknik manajemen yang dipakai. Salah satu bentuk dari aplikasi LAC adalah penetapan daya dukung. Daya dukung obyek wisata alam goa adalah menentukan berapa orang wisatawan yang boleh masuk kedalam goa dengan memperhitungkan waktu dan luas goanya. Didalam mengembangkan kepariwisataan alam di ekosistem termasuk goa seperti yang ada di Indonesia, seringkali menggunakan azas-azas yang dibuat oleh Ko (2001) seperti berikut:

  1. Azas daya dukung dinamis. Azas ini dimaksudkan untuk menjaga kualitas dari obyek wisata. Caranya dengan melakukan pembatasan jumlah pengunjung yang berada di suatu obyek dan daya tarik wisata dalam kurun waktu tertentu, misalnya dalam goa selama 30 menit hanya boleh ada pengunjung sebanyak 20 orang. Faktor yang dipergunakan untuk membatasi jumlah pengunjung ini antara lain ketersediaan kadar O2, CO2 atau kandungan unsur kimia lainnya.
  2. Azas zonasi. Azas ini dimaksudkan untuk dapat menyebar wisatawan pada tempat tempat yang telah ditetapkan sesuai dengan peruntukannya. Di setiap area yang memiliki obyek dan daya tarik wisata dibuat pemintakatan. Pada umumnya zonasi ini meliputi Zona Inti , Zona Umum, Zona Peralihan dan Zona Penyangga.
  3. Azas sirkulasi pengunjung. Azas ini dimaksudkan agar tidak terjadi kondisi yang dapat menyebabkan terjadinya kepadatan wisatawan di suatu tempat. Selain mencegah terjadinya degradasi kualitas goa, hal ini juga dilakukan sebagai upaya untuk menjaga keamanan dan keselamatan wisatawan di dalam goa. Semakin padat wisatawan dalam goa maka kadar oksigen dalam goa juga semakin sedikit.
  4. Azas periodisasi kunjungan. Azas ini berkaitan dengan manajemen pariwisata alam untuk mengatur waktu kunjungan sedemikian rupa sehingga dampak negatif dari pengunjung dapat diminimalisasi.
  5. Azas akses ke obyek. Azas ini menganjurkan agar infrastruktur tidak terlalu dekat dibangun dengan goa. Jalan yang dapat dilalui kendaraan dan tempat parkir ditempatkan sedemikian rupa agar tidak terlalu dekat dengan goa. Penerapan azas ini bisa dilihat pada bentuk pengelolaan Goa Lascaux di Prancis.
  6. Azas Pemberdayaan. Azas ini mengedepankan pada aspek pelibatan masyarakat lokal dalam setiap pengembangan wisata Goa Tenggar. Azas ini bisa diterapkan dengan melakukan:
  7. Pembentukan kelompok sadar wisata (Pokdarwis);
  8. Pembentukan kelompok Tim Tanggap Bencana (Tagana);
  9. Kerjasama pelatihan dengan lembaga pengabdian kepada masyarakat.

Banyak pengelola goa di Indonesia menggunakan goa inti sebagai atraksi utamanya. Praktik-praktik ini yang sering menimbulkan dampak negatif dalam pengelolaannya. Banyak negara lain seperti Spanyol (seperti yang telah dicontohkan sebelumnya) dan Selandia Baru yang telah mengembangkan replika dari beberapa area di goa inti. Seringnya beberapa area pada goa inti hanya digunakan untuk proses penelitian arekologis dan edukasi. Sedangkan Goa replika digunakan untuk berbagai kepentingan seperti pameran dan museum. Bahkan di Selandia Baru goa replika bisa digunakan untuk mendukung pariwisata MICE (Meeting, Insentive, Converence, dan Exhibition), restoran, cafe dan sebagainya. Pengembangan infrastruktur dan pelaksanaan manajemen dalam goa replika bisa menjadi daya tarik serta tidak mengganggu aktifitas yang ada di goa inti. Penentuan lokasi atau area yang bisa dan tidak bisa diakses oleh wisatawan perlu kajian lebih dalam.

Potensi dan prospek Tulungagung dan Goa Tenggar pada umumnya dapat ditelusuri dari sejarahnya. Sejak abad ke-19, Tulungagung telah dikenal menghasilkan marmer berkualitas bagus. Salah satu penambangan waktu itu dikordinir oleh ahli geologi Belanda B.D. van Rietschoten di wilayah pertambangan marmer di Wajak, Campurdarat, Tulungagung, Jawa Timur. Saat aktivitas tambang kala itu ditemukan fragmen-fragmen tengkorak manusia dalam tahun 1888. Selanjutnya, C.Ph. Sluiter dari Natuurkundige Vereeniging in Nederlandsch-Indië  mengabarkan penemuan subfosil manusia itu, dan menyerahkannya kepada Eugène Dubois. Setiba di sana dalam tahun yang sama Eugène Dubois langsung melakukan penelitian lanjutan, dan menemukan subfosil manusia lagi.  Peristiwa ini dapat dianggap sebagai permulaan penelitian paleoantropologi Indonesia. Di sini dapat ditulis dengan tinta emas bahwa paleoantropologi Indonesia itu lahir di Tulungagung. Tulungagung makin melambung namanya setelah publikasi temuan-temuan subfosil di Wajak itu.

Rupanya nama besar Tulungagung sebagai tempat temuan manusia Homo sapiens terpurba di Indonesia,  yang menunjukkan umur minimal 28,5 – 37,4 ribu tahun yang lalu (Storm et al., 2013) beserta bukti lingkungan dan artefaktualnya lambat-laun makin redup atau sejenak ditinggalkan untuk mengekplorasi lokasi-lokasi lain di kawasan negeri ini. Eksplorasi Song Gentong beberapa dekade yang lalu mulai memberikan sinyalemen harapan baru untuk menemukan temuan-temuan paleontologis dan paleoantropologis yang makin menguatkan bukti-bukti dari Wajak itu. Setahun lalu kabar gembira datang lagi dari wilayah sekitar Wajak, yakni laporan penduduk Desa Tenggarejo, Kecamatan Tanggunggunung, atas temuan banyak fosil hewan di Goa Tenggar.Dari aspek temuan, Goa Tenggar bisa disejajarkan dengan kompleks Wajak dan Song Gentong. Potensi temuan fosil-fosil di Goa Tenggar relatif melimpah. Hal inisemakin menambah jumlah lokasi temuan paleontologis dan paleoantropologis di wilayah Tulungagung yang sebelumnya sudah disumbangkan oleh Wajak dan Song Gentong. Di sini Tulungagung membuktikan bahwa wilayahnya penting sebagai tempat untuk mempelajari sejarah alam dan lingkungan purba, dari Pleistosen sampai Holosen, bahkan sebelumnya, karena di beberapa tempat di sekitarnya ditemukan beberapa Mollusca laut (fossil cangkang kerang, siput dan kepiting). Dari sisi bentang alam Goa Tenggar berada pada kawasan perbukitan karst yang mayoritas ditanami jagung oleh masyarakat setempat. Status lahan di dan sekitar Goa Tenggar merupakan milik perhutani yang selain kebun jagung juga terdapat semacam situ atau embung yang cukup luas. Kondisi lingkungan alam yang berupa perbukitan dan embung menjadi atraksi tersendiri untuk menarik minat wisatawan berkunjung.

Berdasarkan itu dipertimbangkan untuk melakukan kajian intensif terkait pengembangan kepariwisataan pada kawasan Goa Tenggar. Pada saat yang bersamaan kunjungan wisatawan dibatasi untuk menjaga kualitas fosil dari potensi kerusakan. Penelitian dan pemetaannya itu diharapkan dapat menggambarkan potensi kawasan Goa Tenggar di bidang kepariwisataan secara menyeluruh. Potensi kepariwisataan dari hasil kajian ini tidak sebatas Goa Tenggar dengan segala atraksinya, namun juga kawasan Goa Tenggar khususnya di Desa Tanggung Gunung berikut potensi yang ada di dalamnya. Proses penelitian dan pengembangan kepariwisataan kawasan Goa Tenggar tetap mengedepankan pelibatan masyarakat lokal sebagai tuan rumah. Sehingga kedepan pengembangan kepariwisataan di Goa Tenggar bersifat keberlanjutan (sustainable) dan berbasis pada pembangunan kualitas masyarakat (community based tourism). Berdasarkan analisis dan identifikasi yang telah dilakukan pada kawasan Goa Tenggar terdapat beberapa potensi pengembangan bidang pariwisata:

  1. Wisata Edukasi (Temuan Fosil)

Potensi temuan fosil-fosil di Goa Tenggar relatif melimpah. Goa Tenggar makin menambah jumlah lokasi temuan paleontologis dan paleoantropologis di wilayah Tulungagung yang sebelumnya sudah disumbangkan oleh Wajak dan Song Gentong. Sejarah kehidupan dan lingkungan Goa Tenggar yang tergambarkan dari proses pembentukkan gua, aliran sungainya dan temuan-temuan fosilnya dapat menjadi bahan pembelajaran bagi masyarakat sekitar, khususnya para generasi mudanya. Dari aspek pemanfaatan keilmuan, Goa Tenggar dan lingkungan sekitarnya sangat ideal sebagai laboratorium alam yang bisa dimanfaatkan oleh peserta didik dan guru-guru bidang ilmu sejarah dan ilmu alam. Temuan-temuan fosil di dalam Goa Tenggar juga akan menjadi daya tarik bagi para mahasiswa, dosen, dan akademisi baik dalam maupun luar negeri untuk melakukan aktifitas eskafasi dan penelitian.Dokumen Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah (Ripparda) sebenarnya telah menunjukkan arah yang baik. Berdasarkan dokumen ripparda ini Desa Tanggung Gunung masuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata (KSP) IIIB wilayah Perbukitan Selatan .Rencana pengembangan pariwisata yang direkomendasikan adalah tema wisata edukasi dan konservasi. Adanya potensi temuan arkeologis dalam Goa Tenggar semakin menguatkan posisi wilayah ini sebagai pusat pengembangan wisata edukasi dan konservasi.

  1. Wisata Minat Khusus

Wisata minat khusus segemntasinya adalah wisatawan yang mempunyai minat atau tujuan maupun motivasi khusus dalam berwisata. Minimal wisatawan memiliki minat dan atau bakat terkait aktifitas wisata minat khusus di suatu objek wisata. Wisata minat khusus ini misalnya seperti trecking, tubbing, rafting, downhill, dan penelusuran Gua. Aktifitas tersebut yang bisa dilaksanakan di kawasan wisata Goa Tenggar. Hal yang menjadi catatan penting dalam aktifitas di dalam Gua adalah tetap mengedepankan upaya pelestarian sumber daya yang ada di dalam Goa Tenggar. Selain itu aspek keamanan dan keselematan wisatawan juga perlu dapat perhatian. Menurut Sunaryo (2013) untuk mempromosikan dan menjual produk wisata minat khusus di atas, penyelenggaraannya dapat dikemas dalamrangkaiansuatu even dan festival yang sangat menarik. Even ini diselenggarakan secara periodik serta terjadwal dalam suatu Calender of Events dan dipromosikan secara meluas dan sistematis.

  1. Penyelenggaraan Even Wisata

Menurut ketua pokdarwis Desa Tenggarrejo dalam waktu dekat akan diadakan festival layang-layang di Desa Tenggarrejo. Hal ini cukup baik untuk mempromosikan Desa Tenggar sebagai kawasan desa wisata. Beberapa even wisata lainnya  seperti even musik, even budaya, fotografi, dan sebagainya juga bisa diselenggarakan di Desa Tenggarrejo. Menurut Pitana (2009) mengutip WTO (1980) mengidentifikasi dampak positifnya sebagai berikut.

  1. Meningkatnya permintaan akan produk pertanian lokal.
  2. Memacu pengembangan lokasi atau lahan yang kurang produktif
  3. Menstimulasi minat dan permintaan akan produk eksotik dan tipikal bagi suatu daerah atau negara
  4. Meningkatkan jumlah dan permintaan akan produk perikanan dan laut
  5. Mendorong pengembangan wilayah dan penciptaan kawasan ekonomi baru
  6. Menghindari konsentrasi penduduk dan penyebaran aktifitas ekonomi
  7. Penyebaran infrastruktur ke pelosok wilayah
  8. Manajemen pengelolaan sumber daya sebagai sumber revenuebagi otoritas

Lokal

  1. Wisata Agro

Hasil observasi menunjukkan bahwa masyarakat Desa Tenggarrejo ternyata mayoritas bertani jagung. Sehingga hasil jagung sangat melimpah di sana dan hasil olahan berupa butir-butir jagung yang telah dikeringkan dikirim ke luar kota untuk dibuat tepung jagung. Sayangnya olahan jagung dari masyarakat masih menyisakan limbah bonggol jagung yang berserakan dan tidak dimanfaatkan.

  1. Wisata Buatan

Penampakan alam yang menarik berupa bukit-bukit bisa dijadikan sebagai atraksi wisata dengan modifikasi sedemikian rupa. Fasilitas-fasilitas semisal kano, kayak, dan sebagainya bisa disediakan untuk “menghidupkan” embung di dekat Goa Tenggar. Jembatan gantung dan wahana flying fox juga bisa dibangun untuk menghubungkan antar bukit di kawasan Goa Tenggar.

Penataaan kawasan sekitar seperti penyediaan gazebo, tempat pemancingan perlu dipertimbangkan untuk mendukung pengembangan wisata buatan khususnya sarana pelengkap kepariwisataan. Sarana pelengkap kepariwisataan adalah berbagai macam fasilitas yang berfungsi melengkapi sarana pokok serta untuk tujuan membuat wisatawan dapat lebih lama tinggal (length of stay) di suatu objek wisata (Suwantoro, 1997). Diantara sarana pelengkap yang dimaksud adalah:a) Sarana Ketangkasan; b) Perlengkapan wisata atau fasilitas rekreasi dan olah raga air; c)Sarana Penunjang Kepariwisataan (supporting tourism superstructure)

Untuk mencapai tujuan secara maksimal perlu ada pengaturan terkait dengan hak penggunaan lahan dan terkait dengan tata wilayah serta pendanaan. Oleh karena itu perlu dipelajari dengan seksama aspek-aspek tersebut di atas oleh pihak-pihak terkait.

 

Kesimpulan dan Rekomendasi

Berdasarkan kajian di lapangan yang telah dilakukan, maka didapatkan kesimpulan di bawah ini:

  1. Goa Tenggar memiliki potensi atraksi utama berupa temuan arkeologis prasejarah cukup penting;
  2. Kawasan Goa Tenggar memiliki potensi luas untuk dikembangkan sebagai atraksi pendukung;
  3. Belum adanya pengelolaan resmi dan upaya perlindungan, menyebabkan potensi degradasi lingkungan Goa Tenggar sangat terbuka;

 

Berdasarkan kesimpulan di atas maka tim peneliti menyampaikan beberapa rekomendasi berikut ini.

  1. Perlu segera dilakukan manajemen destinasi pengelolaan kawasan objek wisata Goa Tenggar;
  2. Adanya penataan kawasan wisata sekitar berbasis ekowisata sehingga wisatawan tidak harus masuk kedalam Goa Tenggar;
  3. Perlu segera dilakukan kajian tapak untuk menentukan pengembangn wisata dan konservasi berkaitan dengan kawasan sekitar Goa Tenggar;

 

Sumber : hasil  Penelitian dan Kajian Bidang Litbang APP Bappeda Tahun 2018


Tags :


Bagikan : Facebook Twitter Telegram Whatsapp Email

Comment (0)

Leave a Comment