Post

CULTURAL DIVERSITY, BATIK MOTIF MANUSIA PURBA HOMO SAPIENS “WADJAKENSIS” TULUNGAGUNG

26 Agustus 2021

CULTURAL DIVERSITY, BATIK MOTIF MANUSIA PURBA HOMO SAPIENS “WADJAKENSIS” TULUNGAGUNG

Motif Batik Homo Wadjakensis Tulungagung

Rencana Kabupaten Tulungagung mengajukan potensi Geoparknya menjadi Geopark Nasional, telah memberikan inspirasi Pak Hadi sebagai salah satu maestro batik Tulungagung. Hal ini dibuktikan beliau dengan menuangkan motif salah satu geoheritage Tulungagung, yaitu fosil manusia purba Homo Sapiens “Wadjakensis” sebagai salah satu motif batiknya.  Memang selain marmernya yang terkenal seantero Indonesia dan bahkan dunia, salah satu peninggalan purba yang sangat terkenal dan mendunia adalah dengan ditemukannya fosil manusia purba Homo Sapiens “Wadjakensis” oleh peneliti Belanda.

Menurut literasi yang ada, lokasi penemuan fosil manusia purba Homo Sapiens atau Manusia Modern “Wadjakensis” berada di kawasan pegunungan karst (gamping) Desa Gamping Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung. Dimana pegunungan karst ini tersusun oleh batu gamping dari formasi Campurdarat. Di lokasi ini, terdapat goa – goa yang terbentuk dari hasil pelarutan batuan karst terhadap kekar – kekar dan sesar – sesar dilokasi tersebut sehingga rongga – rongga yang kian membesar pada kala Miosen.

Fosil pertama “manusia modern” Wadjakensis ditemukan oleh Van Rietschoten pada tanggal 24 Oktober 1888. Kemudian fosil kedua ditemukan oleh Eugene Dubois sekitar bulan September – Oktober 1890, dilokasi yang berdekatan dengan lokasi penemuan pertama. Menurut kajian para ahli, umur fosil Homo Sapiens Wadjakensis kurang lebih 40.000 s/d 35.000 tahun yang lalu, sehingga penemuan ini tercatat sebagai penemuan awal fosil “manusia modern”  di Indonesia.

Selanjutnya, kembali ke “Batik Gayatri”, ternyata Pak Hadi memulai menggeluti batik sejak tahun 2013, tepatnya pada tanggal 5 Oktober 2013. “Saya mengangkat nama Gayatri sebagai tokoh penting Nusantara dan sekaligus membranding batik Tulungagung, sehingga batik saya beri nama Batik Gayatri”, terang Pak Hadi. Batik yang diproduksi berupa batik cap dan batik tulis. Banyak motif yang telah dibuat, antara lain motif Pring Gathuk, Ten Temanten Dandan, Sarinah, Panji dan tentunya motif Purba, sebagaimana yang telah dibuat saat ini, yaitu motif purba Wadjakensis.

“Kami memasarkan hasil produksi batik Gayatri di wilayah Tulungagung, Surabaya, Jakarta maupun kota – kota lain di Indonesia, dengan harga yang bervariasi mulai 300 ribu rupiah untuk batik cap, dan 1 sampai dengan 10 juta untuk batik tulis”, kata Pak Hadi.

Dalam mengelola Batik Gayatri tidak semudah membalikkan telapak tangan, utamanya di masa – masa pandemi saat ini. Hal ini tentunya tidak hanya dirasakan Pak Hadi, namun juga pengusaha – pengusaha batik lainnya di Tulungagung. Dimana sebelum pandemi, banyak kegiatan pameran dan event batik, yang tentunya sangat membantu dalam pemasaran batik. Menyiasati kondisi yang tidak biasa ini, saat ini Pak Hadi lebih memilih promosi produk batiknya melalui sosial media. “Sebenarnya kedepan, kami sangat mengharapkan adanya sebuah pusat belanja atau galeri batik Tulungagung, yang memadukan “proses produksi” dan pemasaran produk, sehingga pusat belanja batik ini dapat dijadikan sebagai salah satu spot pariwisata Tulungagung’, katanya. Untuk membeli batik Gayatri, kita dapat mengunjungi rumah Pak Hadi yang juga sekaligus sebagai galeri, yang beralamat di Jalan Pahlawan Gang 3 Nomor 7 A Ketanon Tulungagung Jawa Timur, atau dapat menghubungi Nomor Telepon 081335811424. (Litbang Bappeda)


Tags :


Bagikan : Facebook Twitter Telegram Whatsapp Email

Comment (0)

Leave a Comment